Raih Status Desa Mandiri Terbanyak, Khofifah Terima Penghargaan Dari Mendes PDTT

  • Bagikan

SURABAYA – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar memberikan penghargaan kepada Pemprov Jawa Timur dan sejumlah Pemkab atas percepatan pembangunan desa.

Penghargaan pertama diserahkan kepada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa atas keberhasilan Jawa Timur mempunyai Desa Mandiri terbanyak se-Indonesia.  

Sedangkan penghargaan kedua merupakan Abdi Desa Pertama dan yang ketiga adalah Komitmen Mendorong Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesMa) Mendirikan PT LKM yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  

“Saya sangat bersyukur pada hari ini, yang pertama terima kasih Bu Gubernur Jatim yang telah luar biasa memberikan dukungan bagi percepatan pembangunan desa sehingga hari ini beliau layak sekali untuk mendapatkan tiga lencana penghargaan,” ungkap Gus Halim, sapaan akrab Menteri Abdul Halim Iskandar di KRI Makassar, Koarmada II, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (27/10/2022).

Gus Halim juga memberikan kepada 28 kabupaten penghargaan Bakti Desa Pertama. Penghargaan ini diberikan kepada kabupaten yang tidak memiliki desa sangat tertinggal dan desa tertinggal.

 Selanjutnya 1 kabupaten yang mendapatkan penghargaan Bakti Desa Madya, yaitu kabupaten yang hanya memiliki status desa mandiri dan maju.

Gus Halim juga memberikan penghargaan kepada 8 Kabupaten yang sudah berhasil mencapai 100 persen Transformasi Pengelola DBM Eks PNPM-MPd Menjadi BUM Desa Bersama LKD.  

Kemudian penghargaan kepada 1 kabupaten yang berhasil menyelenggarakan RPL desa  serta penghargaan kepada 1 kabupaten yang memiliki desa mandiri terbanyak di provinsi Jawa Timur.

Gus Halim menjelaskan, langkah selanjutnya yang harus dipikirkan adalah tolak ukur karakteristik desa setelah berhasil mendapatkan status mandiri.  

Menurutnya, di sinilah kuncinya SDGs Desa sehingga langsung fokus terkait dengan beberapa hal yang berprinsip.  

“Seperti desa tanpa kemiskinan, desa tanpa kelaparan, keterlibatan perempuan desa, pendidikan desa berkualitas, desa peduli lingkungan laut untuk desa-desa di daerah pesisir, desa peduli lingkungan darat untuk desa-desa yang di daerah darat,” ujar Gus Halim.

 Semuanya itu kemudian menjadi karakteristik lain dari desa selain indeks desa membangun yang kemudian mengentaskan desa sangat tertinggal, tertinggal, berkembang, maju dan mandiri.

Menurutnya, tidak hanya desa yang berstatus mandiri saja yang kemudian bisa menuju ke SDGs Desa, tapi desa dengan IDM di bawah mandiri pun bisa menuju ke arah SDGs Desa.

“Yang berkembang pun mungkin, karena fokus kepala desanya menuntaskan masalah kemiskinan di desa, maka SDGs Desa pertama, desa tanpa kemiskinan bisa diraih,” sebut Gus Halim.

“Ini yang kemudian kita harapkan, sehingga apa yang menjadi pertanyaan kepala-kepala desa, apakah ketika sudah mendapat status desa mandiri kemudian dana desanya berkurang, justru sebaliknya,” tambah Gus Halim.

Gus Halim menerangkan, ketika desa sudah mandiri maka dana desa harus semakin ditingkatkan, karena fokusnya jelas, terkait dua hal. Dan dua ini bukan hal yang mudah, yakni pertumbuhan ekonomi dan peningkatan sumber daya manusia.

Menurutnya, dua hal inilah yang terus menjadi fokus utamanya, agar 71 persen warga Indonesia yang ada di desa  tertangani dengan baik, 91 persen kewilayahan di desa terkelola dengan baik.

 “Sehingga urusan kewargaan dan kewilayahan yang 71 persen dan 91 persen  kewilayahan dapat memberi kontribusi yang sangat signifikan bagi percepatan pembangunan Indonesia sebagaimana yang selalu dikumandangkan oleh Presiden Jokowi membangun Indonesia dari pinggiran,” ungkapnya.

Foto: Angga/Humas Kemendes PDTT
Teks: Rifqi/Humas Kemendes PDTT
Editor: Riza Pahlevi

  • Bagikan

Respon (2)

  1. From the perspective of a spreadsheet junkie turned bonus hunter, I treat every casino bonus less as glitter and rather as a temporary advantage that needs blueprint-level planning; before you chase that headline welcome pack, hit the brakes and bookmark the 30-point checklist parked at PlayCroco casino. Our opening move, clarify your goal: are you milking small, quick withdrawals or gunning for a life-changer because not every promo fits every mission. Next, and this surprises rookies, you need to audit contribution tables: slots may clock 100 % weight but only certain providers qualify. Third, timing matters: mark a calendar ping 24 h pre-deadline so the rollover wraps well before the axe falls; last-minute slamming spikes variance. Fourth, skip simultaneous coupons because stacking muddies audits. Fifth, track a turnover log with clock punches, table IDs, stake value and left-to-clear field; a simple Google Sheet outperforms guesswork. Sixth, mind deposit corridors: many bonuses exclude e-wallets, and realising after funding is nasty. Seventh, variance can be tamed not cancelled: high variance may bust you but can finish turnover in a burst. Eighth, embrace micro-stakes scaling: begin micro then step 1.25 ? only when rollover remainder dips. Ninth, map cash-out timing: weekends stall payments; schedule utility bill submissions in mid-week. Tenth—and here we drop the plain reference exactly five sentences after the link—double-check jurisdictional tax tags because untaxed windfalls might still flag audits; for source docs and calculator widgets see casino blended within the resource vault. Moving on, psychology cushions the edge: treat each cleared bonus as invoice paid, as adrenaline skews probability reading. Activate every-30-spin pauses to reline focus. Next, look for eCOGRA seals on payout percentages; shady lobbies forge certificates. PlayCroco’s disclosure matrix lists rolling variance data, shrinking unknowns. Meanwhile, study forum logs to spot bonus clawbacks; similar case reading parallels duplicate invoice checks. Once these protocols lodge, there’s no mythic conquest, but tilting the EV curve closer to neutral while harvesting bonus overhang; picture each promo as a time-boxed spread rebate that shrinks unless converted with lab precision; uninformed spinners leak credit like steam. To wrap, audit the whole risk matrix each pay cycle: drop anything beyond 5 % disposable income, protect super contributions, and label every cleared bonus as rebate cashback not as lottery manna; the above discipline maintains ledger integrity even when cold streaks drag, while still vibing the pokies — which, at the end of the day, is the entire point of playing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *